Back To HOME

Tampilkan postingan dengan label Glenikan Terminal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Glenikan Terminal. Tampilkan semua postingan

Rabu, Desember 16, 2009

Aqua Galon cuman Rp. 10 Ribu



Toko Adiratna yang beralamat Depan terminal Bus Gendingan menjual Refill Aqua Galon seharga Rp. 10.000,-
Bagi warga sekitar Terminal Gendingan yang membutuhkan Refill Aqua Galon bisa segera datang ke Toko Adiratna yang beralamat di depan Terminal Bus Gendingan.



Sabtu, November 14, 2009

Warnet Ngawi : "Awas Giliran Listrik Padam"



Kalau kita sering liat berita di televisi tentang "giliran" pemadaman listrik di wilayah DKI Jakarta rasanya sebagai konsumen kita cuman bisa menerima begitu aja keputusan sepihak dari pihak PLN yang notabene pengelola pelistrikan di seluruh wilayah Indonesia. Dengan alasan krisis energi rakyat atau konsumen "wajib" mengerti apa yang sedang dialami oleh PLN kita tercinta ini.

Namun, pernahkah PLN berpikir sebaliknya?. Manakala kita sebagai konsumen terlambat sehari saja dalam pembayaran rekening bulanan. Apa yang terjadi? secara otomatis kita kena denda sekian rupiah. Belum lagi dengan tenggang waktu tertentu kita terlambat bayar tagihan listrik, maka siap-siap ada petugas PLN datang ke rumah kita kemudian listrik di rumah kita langsung di segel dan pada tahap terakhir aliran listrik ke rumah kita langsung diputus.

Bagi temen2 yang mempunyai usaha Warnet, sebaiknya senantiasa sedia backup berupa UPS atau harus punya kenalan orang PLN yang akan senantiasa memberi info kapan listrik akan padam. Karena akhir2 ini wilayah ngawi dan sekitarnya juga sering sekali mengalami pemadaman listrik dengan alasan perbaikan instalasi.

Karena seperti kita ketahui bersama bahwa pemadaman listrik secara mendadak akan berakibat fatal bagi komputer2 kita yang pada saat pemadaman masih dalam keadaan ON. Padahal mematikan PC harus senantiasa melalui proses "shut down" terlebih dulu. Dengan pemadaman mendadak berarti komputer dimatikan TANPA melalui proses "shut down". Kita juga tahu bahwa perilaku tersebut lambat laun akan "menjebolkan" PC kita.

Pertama yang kena dampak adalah "Sistem Operasi" kemudian "Hard disk". Karena saya mengalami sendiri sudah ganti hard disk 4X. Kalo kayak gini apa PLN mau tahu?

Sepertinya monopoli pengelolaan listrik di negeri tercinta ini sudah perlu ditinjau ulang. Seperti di beberapa negara maju, pengelolaan listrik sudah diserahkan kepada pihak swasta. Sehingga masing-masing perusahaan listrik bisa saling bersaing terutama dalah hal kualitas layanan ke konsumen.

Selasa, November 10, 2009

Lie Detector VS Hipnotis



Melihat acara di televisi kita sambil nonton acara reality show ternyata ada suatu fenomena yang cukup menarik.
Manakala hampir di setiap televisi kita tercinta pada saluran berita dan breaking news masih juga membahas permasalahan KPK VS POLRI.
Bagi para koruptor bahkan sampai dengan aparat yang notabene seorang "jenderal" kenapa kepolisian kita "cenderung" lama dalam penanganan kasus tersebut. Untuk menggali informasi dari beberapa saksi kunci pihak kepolisian selalu mengandalkan sesuatu yang dinamakan "Lie Detector Machines" untuk mendeteksi apakah seseorang bersaksi secara jujur atau berbohong. Iya kalau yang diiterogasi menggunakan lie detector tersebut adalah orang biasa mungkin tingkat keakuratannya bisa lebih tinggi. Namun apakah itu juga berlaku bagi saksi kunci dari pihak aparat kepolisian sendiri yang notabene sudah berpegalaman. Bukankah segala sesuatu "buatan" manusia pasti memiliki sisi kelemahan? karena manusia itu sendiri adalah makhluk yang lemah?. Bahkan dari beberapa diskusi online ada salah satu tokoh yang menyatakan bahwa "lie detector itu bisa dipelajari kok". Nah?..

Disaat yang bersamaan kita disuguhi tontonan acara "Uya Emang Kuya" yang di setiap show nya pasti menampilkan suatu suguhan hipnotis untuk "membongkar aib" orang tersebut yang tentunya akan ditayangkan apabila disetujui oleh si korban hipnotis tersebut. Dan terbukti hasil dari korban hipnotis itu hampir 100% tidak bisa mengelak untuk berkata apa adanya alias JUJUR.
Nah, mungkin sudah saatnya POLRI membuat aturan diperbolehkannya teknik hipnotis untuk meng-interogasi saksi kunci setiap kasus demi menyelamatkan NKRI. Dalam beberapa diskusi online juga sudah pernah dibahas bahwa densus 88 dalam menangani kasus "teroris" juga telah menggunakan teknik hipnotis untuk mendapatkan informasi sedetail-detailnya dari saksi kunci yang terlebih dahulu ditangkap. Walaupun dalam diskusi online yang lainnya membahas bahwa semua operasi densus 88 adalah sebuah "inspirasi" dengan dana dari pihak2 tertentu demi tercapianya sebuah tujuan penting bagi si penyandang dana. Berbicara tentang densus 88 yang fokus untuk menangkap para "teroris" yang dianggap membahayakan negara kita, kenapa POLRI juga tidak membentuk semacam densus 99 untuk difokuskan menangkap para Koruptor yang bukan hanya diduga tapi sudah pasti merugikan negara tercinta ini. Sehingga muncul pertanyaan kenapa "teroris" sekelas Dr. Azhari dan Noordin M Top yang levelnya sudah ASIA bisa dengan mudah tertangkap densus 88 namun belum pernah ada satupun teroris kelas kakap yang baru level Indonesia Singapura yang bisa tertangkap oleh POLRI kita tercita ini. Dari mulai pioneer Koruptor Indonesia "Si Edi Tansil" sampai detik ini tidak ada kabarnya sama sekali. Bahkan kasusnya mungkin sudah dicoret oleh daftar kasus di kepolisian negara kita tercinta ini. Mungkin juga diperlukan sebuah negara penyandang dana untuk pembentukan densus 99 bukan hanya KPK yang dengan mudah bisa dikebriri oleh aparat kita. Atau kita hanya akan menunggu sampai tangan-tangan Tuhan yang membentuk densus 99 melalui para malaikatnya yang bertindak melalui GEMPA BUMI, BANJIR BANDANG, TANAH LONGSOR, GUNUNG MELETUS, LUMPUR LAPINDO, SITU GINTUNG, TSUNAMI, ANGIN TORNADO, dan lain-lain?. Sehingga tidak ada bedanya antara manusia baik dan manusia jahat. Karena para aparat negeri ini yang notabene pemegang keputusan dan hukum serta keadilan bisa dengan mudahnya menjual hukum dan keadilan dengan murahnya demi untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Na'udzubilah.

Jumat, Oktober 09, 2009

Budaya pungutan yang susah hengkang dari bumi Indonesia




Glenikan Terminal - Isu tentang cairnya uang Rapelan kekurangan Gaji 100% bagi PNS baru sontak mampu menyunggingkan bibir hampir semua PNS baru yang akan menerima rapelan kekurangan Gajinya. Memang tak bisa dipungkiri bahwa lebaran yang jatuh pada 'tanggal tua' kemarin cukup merepotkan para PNS yang punya tradisi "mudik" sehingga jurus pamungkas pun dilakoni yaitu dengan bon gaji bulan berikutnya kepada bendahara Gaji.

Satu point masalah telah terselesaikan. Namun, bulan berikutnya yang tidak sempet kepikiran. Maklum, masyarakat kita yang sudah beralih budaya menjadi konsumeris otomatis selalu yang penting action, tapi resiko belakangan alias "pikir mburi". Sehingga sekarang giliran kudu berfikir keras gimana menaklukan kehidupan sebulan kedepan tanpa menerima Gaji.

Kembali kepada permasalahan "kebiasaan" PUNGLI. Setiap ada dana yang kelihatannya cuma-cuma dari pemerintah pusat, sudah bisa dipastikan bahwa dana yang akan sampai kepada yang berhak menerimanya akan menjadi bukan 100% lagi. "Biaya Administrasi" itulah clue yang biasa digunakan oleh mereka. Akhirnya tanpa bisa berbuat banyak, mereka cuman bisa pasrah. Seperti kasus BLT dan kasus-kasus lainnya, para petugas dilapangan merasa berhak untuk melakukan pungutan beruupa potongan secara langsung atas dana yang seharusnya bisa sampai ke tangan yang berhak secara 100%.

Ada yang bergumam, "rasanya gempa yang terjadi disana-sini, banjir, tanah longsor, kecelakaan lalu-lintas, jatuhnya pesawat, dan lain-lain tidak ada satupun yang berusaha untuk dijadikan "ibroh" pelajaran bahwa semua yang Alloh timpakan kepada kita adalah karena ULAH kita sendiri."
Para pelakunya bukanlah orang yang bodoh, bukan orang miskin, bukan orang buta huruf, bukan orang hutan. Justru merekalah para tokoh terpelajar, para pejabat kaya raya, para petinggi jabatan.
Alloh SWT masih bisa memaafkan hambanya yang melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran bila hambanya adalah orang bodoh yang tidak tahu bahwa yang dilakukannya adalah perbuatan dosa dan pelanggaran. Tapi mereka.... Mereka adalah para tokoh dan pakar dibidangnya masing-masing.

Betapa kita teramat sedih menyaksikan di televisi berita tentang Gempa Bumi yang melanda Bumi Sumatera. Dimana banyak manusia terkubur hidup-hidup untuk kemudian mati untuk selamanya. Orang tua kehilangan anak-anaknya. Anak kehilangan orang tuanya. Boleh jadi mereka yang tertimbun bangunan adalah anak-anak yang Sholeh dan sholehah, hamba yang rajin ibadah kepada Tuhannya, Hamba-hamba yang meraih derajat Taqwa pasca menjalankan Ibadah Puasa Romadhon plus puasa 6 hari di bulan syawal.

Gempa pukul 17:16 (Qur'an Surat Al-Israa' ayat 16):
"Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup MEWAH dinegeri itu (supaya mentaati Alloh) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya."

Gempa susulan pukul 17:58 (Qur'an Surat Al-Israa' ayat 58) :
"Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh).

Gempa susulan hari berikutnya pukul 08:52 (Qur'an Surat Al Anfaal ayat 52) :
"(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Alloh, maka Alloh menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Alloh Maha Kuat lagi amat keras siksaan-NYa."

Klik DIbawah ini untuk Tambahan Penghasilan

Online Status

JAM