Back To HOME

Jumat, Oktober 09, 2009

Budaya pungutan yang susah hengkang dari bumi Indonesia




Glenikan Terminal - Isu tentang cairnya uang Rapelan kekurangan Gaji 100% bagi PNS baru sontak mampu menyunggingkan bibir hampir semua PNS baru yang akan menerima rapelan kekurangan Gajinya. Memang tak bisa dipungkiri bahwa lebaran yang jatuh pada 'tanggal tua' kemarin cukup merepotkan para PNS yang punya tradisi "mudik" sehingga jurus pamungkas pun dilakoni yaitu dengan bon gaji bulan berikutnya kepada bendahara Gaji.

Satu point masalah telah terselesaikan. Namun, bulan berikutnya yang tidak sempet kepikiran. Maklum, masyarakat kita yang sudah beralih budaya menjadi konsumeris otomatis selalu yang penting action, tapi resiko belakangan alias "pikir mburi". Sehingga sekarang giliran kudu berfikir keras gimana menaklukan kehidupan sebulan kedepan tanpa menerima Gaji.

Kembali kepada permasalahan "kebiasaan" PUNGLI. Setiap ada dana yang kelihatannya cuma-cuma dari pemerintah pusat, sudah bisa dipastikan bahwa dana yang akan sampai kepada yang berhak menerimanya akan menjadi bukan 100% lagi. "Biaya Administrasi" itulah clue yang biasa digunakan oleh mereka. Akhirnya tanpa bisa berbuat banyak, mereka cuman bisa pasrah. Seperti kasus BLT dan kasus-kasus lainnya, para petugas dilapangan merasa berhak untuk melakukan pungutan beruupa potongan secara langsung atas dana yang seharusnya bisa sampai ke tangan yang berhak secara 100%.

Ada yang bergumam, "rasanya gempa yang terjadi disana-sini, banjir, tanah longsor, kecelakaan lalu-lintas, jatuhnya pesawat, dan lain-lain tidak ada satupun yang berusaha untuk dijadikan "ibroh" pelajaran bahwa semua yang Alloh timpakan kepada kita adalah karena ULAH kita sendiri."
Para pelakunya bukanlah orang yang bodoh, bukan orang miskin, bukan orang buta huruf, bukan orang hutan. Justru merekalah para tokoh terpelajar, para pejabat kaya raya, para petinggi jabatan.
Alloh SWT masih bisa memaafkan hambanya yang melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran bila hambanya adalah orang bodoh yang tidak tahu bahwa yang dilakukannya adalah perbuatan dosa dan pelanggaran. Tapi mereka.... Mereka adalah para tokoh dan pakar dibidangnya masing-masing.

Betapa kita teramat sedih menyaksikan di televisi berita tentang Gempa Bumi yang melanda Bumi Sumatera. Dimana banyak manusia terkubur hidup-hidup untuk kemudian mati untuk selamanya. Orang tua kehilangan anak-anaknya. Anak kehilangan orang tuanya. Boleh jadi mereka yang tertimbun bangunan adalah anak-anak yang Sholeh dan sholehah, hamba yang rajin ibadah kepada Tuhannya, Hamba-hamba yang meraih derajat Taqwa pasca menjalankan Ibadah Puasa Romadhon plus puasa 6 hari di bulan syawal.

Gempa pukul 17:16 (Qur'an Surat Al-Israa' ayat 16):
"Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup MEWAH dinegeri itu (supaya mentaati Alloh) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya."

Gempa susulan pukul 17:58 (Qur'an Surat Al-Israa' ayat 58) :
"Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh).

Gempa susulan hari berikutnya pukul 08:52 (Qur'an Surat Al Anfaal ayat 52) :
"(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Alloh, maka Alloh menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Alloh Maha Kuat lagi amat keras siksaan-NYa."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Klik DIbawah ini untuk Tambahan Penghasilan

Online Status

JAM